Ciri kanker lidah, merupakan salah satu jenis kanker yang tumbuh pada jaringan lidah. Penyakit ini paling sering bermula dari sel skuamosa, yaitu sel tipis dan datar yang melapisi permukaan lidah. Pada tahap awal, kelainannya dapat terlihat seperti sariawan biasa, bercak, luka kecil, atau benjolan yang tidak terlalu mengganggu.
Kemiripan tersebut membuat sebagian orang menunda pemeriksaan. Luka dianggap muncul akibat lidah tergigit, terkena makanan panas, gesekan gigi tajam, atau kurang menjaga kebersihan mulut. Padahal, luka yang tidak sembuh, bercak merah atau putih, serta benjolan yang terus membesar perlu diperiksa oleh dokter gigi atau dokter.
Kanker dapat tumbuh pada bagian lidah yang terlihat di dalam mulut maupun pangkal lidah yang berada lebih dekat dengan tenggorokan. Letak pertumbuhan memengaruhi keluhan yang dialami. Kanker pada bagian depan lidah lebih mudah terlihat, sedangkan kelainan di pangkal lidah mungkin baru terasa ketika menimbulkan sakit tenggorokan, kesulitan menelan, nyeri telinga, atau benjolan pada leher.
Luka di Lidah Tidak Sembuh Lebih dari Tiga Minggu
Luka yang tidak kunjung sembuh merupakan salah satu ciri kanker lidah yang paling perlu diperhatikan. Bentuknya dapat menyerupai sariawan, cekungan kecil, permukaan yang terkikis, atau luka dengan bagian tepi lebih tebal. Warnanya tidak selalu sama, mulai dari pucat, kemerahan, hingga bercampur dengan lapisan putih.
Sariawan biasa umumnya membaik setelah penyebabnya hilang. Luka akibat tergigit atau terkena makanan panas juga akan melalui proses penyembuhan. Pemeriksaan perlu dilakukan apabila luka tetap ada selama lebih dari tiga minggu, semakin besar, sering berdarah, atau terasa semakin sakit.
NHS menyarankan seseorang menemui dokter atau dokter gigi ketika memiliki luka di dalam mulut yang bertahan lebih dari tiga minggu. Batas waktu tersebut bukan berarti luka yang lebih singkat pasti aman, tetapi menjadi penanda bahwa kelainan sudah berlangsung cukup lama dan perlu dinilai secara langsung.
Luka kanker juga tidak selalu menimbulkan sakit pada awal pertumbuhan. Sebagian orang baru merasakan nyeri ketika jaringan yang terganggu semakin luas. Karena itu, luka yang tidak sakit tetapi tidak kunjung sembuh tetap tidak boleh diabaikan.
“Tidak adanya rasa sakit bukan jaminan bahwa luka pada lidah aman. Lama penyembuhan dan perubahan bentuk justru menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.”
Bercak Putih atau Merah yang Tidak Menghilang
Pada lidah dapat muncul bercak putih akibat berbagai keadaan, termasuk infeksi jamur, iritasi, sisa makanan, atau leukoplakia. Bercak merah juga dapat disebabkan peradangan dan cedera. Namun, bercak yang menetap, tidak mudah dibersihkan, serta mengalami perubahan ukuran perlu diperiksa.
Kelainan berwarna putih disebut leukoplakia, sedangkan bercak merah dikenal sebagai eritroplakia. Keduanya tidak selalu merupakan kanker. Sebagian bercak dapat memiliki perubahan sel yang berpotensi berkembang menjadi keganasan, tetapi kondisi tersebut hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan jaringan di laboratorium.
Bercak mencurigakan dapat terasa lebih kasar, menebal, atau berbeda dari permukaan lidah di sekitarnya. Warnanya juga bisa bercampur merah dan putih. Kadang tidak ada rasa sakit sehingga seseorang hanya mengetahuinya ketika melihat mulut di depan cermin atau menjalani pemeriksaan gigi.
National Cancer Institute menyebut bercak putih atau merah pada lidah dan lapisan rongga mulut sebagai salah satu tanda kanker rongga mulut. Diagnosis tidak dapat dibuat hanya dari warna karena berbagai penyakit lain dapat menimbulkan tampilan serupa.
Benjolan dan Penebalan pada Permukaan Lidah
Kanker lidah dapat terlihat atau terasa sebagai benjolan yang tidak biasa. Benjolan mungkin muncul di sisi lidah, bagian bawah, ujung, atau dekat pangkalnya. Ukurannya dapat sangat kecil pada awal pertumbuhan sehingga hanya terasa ketika lidah menyentuh gigi.
Selain berbentuk bulat, kelainan bisa berupa penebalan yang membuat satu bagian lidah terasa lebih keras. Permukaannya terkadang tidak rata dan mudah terluka ketika bergesekan dengan gigi atau makanan.
Benjolan akibat infeksi atau trauma dapat mengecil setelah penyebabnya diatasi. Sebaliknya, kelainan yang terus tumbuh, tidak menghilang, atau disertai perdarahan perlu mendapatkan penilaian medis. Dokter akan melihat ukuran, bentuk, warna, batas, dan kekerasannya.
Benjolan tidak boleh ditekan, ditusuk, atau diobati menggunakan bahan yang dapat mengiritasi jaringan. Tindakan tersebut berisiko menambah luka dan menyulitkan penilaian awal. NCI serta CDC memasukkan benjolan atau penebalan di rongga mulut sebagai tanda yang perlu diperiksakan.
Rasa Sakit pada Lidah yang Terus Berulang
Nyeri pada lidah sangat umum ditemukan dan tidak selalu berkaitan dengan kanker. Luka, gigi tajam, kawat gigi, infeksi, alergi makanan, serta kekurangan zat gizi dapat menimbulkan rasa perih atau terbakar.
Kecurigaan meningkat apabila rasa sakit tidak membaik, semakin kuat, atau berada pada satu titik yang sama. Nyeri dapat muncul ketika berbicara, mengunyah, menelan, atau menggerakkan lidah. Pada keadaan tertentu, rasa sakit tetap terasa meskipun mulut sedang tidak digunakan.
Kanker dapat merusak jaringan dan mengganggu saraf di sekitarnya. Nyeri kemudian terasa lebih dalam atau menyebar menuju rahang, tenggorokan, dan telinga. Keluhan yang menetap perlu diperiksa, terutama apabila disertai luka, benjolan, bercak, atau kesulitan menggerakkan lidah.
CDC mencatat rasa sakit di mulut atau tenggorokan yang tidak menghilang sebagai salah satu gejala kanker rongga mulut dan faring. Meski demikian, penyebabnya tetap harus dipastikan melalui pemeriksaan dokter.
Lidah Mati Rasa atau Mengalami Sensasi Aneh
Mati rasa pada sebagian lidah dapat menjadi tanda adanya gangguan pada jaringan atau saraf. Seseorang mungkin merasa lidah lebih tebal, kurang peka terhadap sentuhan, kesemutan, atau memiliki sensasi yang sulit dijelaskan.
Keluhan tersebut dapat terjadi akibat tindakan perawatan gigi, cedera saraf, infeksi, alergi, atau penyakit lain. Setelah pembiusan gigi, misalnya, mati rasa biasanya berangsur hilang dalam beberapa jam.
Perhatian perlu diberikan ketika sensasi aneh muncul tanpa penyebab jelas dan terus menetap. Mati rasa yang disertai benjolan, luka, perdarahan, atau kesulitan menggerakkan lidah membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
National Cancer Institute menyebut mati rasa pada bibir atau rongga mulut sebagai salah satu tanda yang dapat ditemukan pada kanker mulut. Gejala tersebut bukan dasar diagnosis karena pemeriksaan fisik dan jaringan tetap diperlukan.
Lidah Mudah Berdarah Tanpa Cedera yang Jelas
Perdarahan dapat terjadi ketika lidah tergigit atau terkena makanan yang keras. Lidah memiliki banyak pembuluh darah sehingga luka kecil pun terkadang menghasilkan darah dalam jumlah cukup banyak.
Pada kanker lidah, permukaan jaringan dapat menjadi rapuh dan mudah berdarah. Darah mungkin muncul ketika menyikat gigi, mengunyah makanan, atau menyentuh bagian yang sakit. Dalam beberapa keadaan, perdarahan terjadi tanpa pemicu yang terlihat.
Darah yang berulang tidak boleh dianggap berasal dari sariawan biasa tanpa pemeriksaan. Perlu diperhatikan apakah perdarahan berasal dari lidah, gusi, gigi, tenggorokan, atau bagian mulut lainnya.
Perdarahan yang tidak biasa termasuk tanda kanker rongga mulut menurut NCI dan CDC. Seseorang perlu segera mencari pertolongan apabila darah sulit berhenti, jumlahnya banyak, tubuh terasa lemas, atau pernapasan mulai terganggu.
Kesulitan Menggerakkan Lidah dan Perubahan Cara Bicara
Lidah memiliki peran besar dalam membentuk suara. Gerakan yang terkoordinasi membantu seseorang mengucapkan huruf dan kata dengan jelas. Gangguan pada otot, saraf, atau struktur lidah dapat mengubah cara bicara.
Kanker yang membesar dapat membatasi gerakan lidah. Penderitanya mungkin merasa lidah kaku, berat, atau sulit diarahkan ke salah satu sisi. Ucapan kemudian terdengar kurang jelas, cadel, atau berbeda dari biasanya.
Perubahan suara juga dapat muncul apabila kanker berada di bagian belakang lidah atau telah memengaruhi tenggorokan. Suara menjadi serak, lemah, atau terasa tertahan. Keluhan tersebut bisa berasal dari banyak penyakit lain, termasuk infeksi saluran pernapasan dan gangguan pita suara.
Pemeriksaan diperlukan apabila perubahan bicara atau suara tidak menghilang. NCI mencantumkan kesulitan menggerakkan lidah dan perubahan suara sebagai tanda yang dapat ditemukan pada kanker rongga mulut.
Mengunyah dan Menelan Terasa Semakin Sulit
Kesulitan mengunyah dapat muncul ketika luka atau benjolan menimbulkan rasa sakit saat bersentuhan dengan makanan. Seseorang mungkin menghindari makanan keras, mengunyah hanya pada satu sisi, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk menghabiskan makanan.
Gangguan menelan dapat terasa seperti makanan tersangkut, tenggorokan menyempit, atau muncul rasa sakit ketika menelan. Keluhan ini lebih sering ditemukan ketika pertumbuhan berada pada pangkal lidah atau bagian belakang rongga mulut.
Sebagian pasien mulai memilih makanan lunak dan mengurangi porsi tanpa menyadari penyebabnya. Jika keadaan berlangsung lama, berat badan dapat turun karena asupan makanan berkurang.
Kesulitan mengunyah, menelan, atau menggerakkan rahang dan lidah tercantum sebagai gejala kanker rongga mulut pada informasi NCI. Keluhan tersebut perlu dinilai segera apabila bertambah berat, disertai tersedak, atau membuat seseorang tidak mampu menelan air dan ludah.
Nyeri Tenggorokan yang Tidak Kunjung Hilang
Kanker pada pangkal lidah dapat menimbulkan keluhan yang lebih menyerupai gangguan tenggorokan. Pasien mungkin mengalami rasa mengganjal, sakit saat menelan, atau sensasi seolah ada benda yang tertahan.
Sakit tenggorokan akibat flu atau infeksi biasanya disertai gejala lain dan membaik setelah beberapa waktu. Keluhan yang terus berlangsung, terutama tanpa demam atau infeksi yang jelas, perlu diperiksa.
Letak pangkal lidah membuat perubahan awal sulit dilihat hanya dengan membuka mulut di depan cermin. Dokter mungkin memerlukan alat khusus untuk memeriksa bagian belakang rongga mulut dan tenggorokan.
NCI mencatat sakit tenggorokan yang tidak menghilang serta perasaan seperti ada sesuatu yang tersangkut sebagai tanda kanker rongga mulut dan orofaring.
Nyeri Telinga Dapat Berasal dari Pangkal Lidah
Nyeri telinga tidak selalu berarti terdapat penyakit pada telinga. Saraf di tenggorokan, lidah, rahang, dan telinga memiliki jalur yang saling berhubungan. Gangguan di salah satu bagian dapat menimbulkan rasa sakit pada lokasi lain.
Kanker di pangkal lidah atau tenggorokan dapat menyebabkan nyeri yang terasa hingga telinga, meskipun pemeriksaan telinga tidak menemukan infeksi. Keluhan biasanya muncul pada satu sisi dan dapat disertai sakit menelan atau benjolan di leher.
Infeksi tenggorokan, gangguan sendi rahang, masalah gigi, dan peradangan juga dapat menimbulkan nyeri telinga yang serupa. Karena itu, keluhan tidak dapat digunakan untuk menyatakan adanya kanker tanpa pemeriksaan.
Nyeri telinga yang menetap dan tidak memiliki penyebab jelas perlu dibicarakan dengan dokter, terutama apabila muncul bersama sakit tenggorokan, gangguan menelan, atau perubahan pada lidah.
Benjolan di Leher Menandakan Perlunya Pemeriksaan Lanjutan
Benjolan pada leher dapat berasal dari pembesaran kelenjar getah bening. Keadaan ini sering terjadi saat tubuh melawan infeksi. Benjolan akibat infeksi biasanya terasa nyeri dan mengecil setelah penyakit membaik.
Pada kanker lidah, sel ganas dapat menyebar menuju kelenjar getah bening leher. Benjolan mungkin terasa keras, tidak sakit, dan tidak mudah digerakkan. Letaknya dapat berada di bawah rahang, sisi leher, atau dekat tenggorokan.
Tidak semua benjolan leher adalah kanker. Kista, gangguan kelenjar ludah, masalah tiroid, dan infeksi dapat memberikan keluhan yang serupa. Namun, benjolan yang tidak mengecil atau terus membesar perlu diperiksa.
NHS dan NCI mencantumkan benjolan di leher atau tenggorokan sebagai salah satu gejala yang memerlukan perhatian. Pemeriksaan tidak boleh ditunda hanya karena benjolan tidak terasa sakit.
“Perubahan pada lidah perlu dinilai bersama keadaan leher, tenggorokan, gigi, dan kemampuan menelan karena keluhannya dapat saling berkaitan.”
Berat Badan Turun Tanpa Direncanakan
Penurunan berat badan dapat terjadi ketika seseorang kesulitan mengunyah dan menelan. Rasa sakit membuat porsi makan berkurang, sementara pilihan makanan menjadi semakin terbatas.
Kanker yang telah berkembang juga dapat mengubah penggunaan energi oleh tubuh. Pasien mungkin kehilangan berat badan meskipun tidak sedang menjalani diet atau meningkatkan aktivitas fisik.
Berat badan yang berubah sedikit belum tentu menunjukkan penyakit serius. Hal yang perlu diperhatikan adalah penurunan yang terus berlangsung, pakaian menjadi longgar, tenaga berkurang, dan selera makan menurun.
NHS, CDC, dan NCI mencantumkan penurunan berat badan tanpa sebab jelas sebagai gejala yang dapat muncul pada kanker mulut atau orofaring. Pemeriksaan diperlukan untuk membedakannya dari gangguan tiroid, penyakit pencernaan, infeksi, serta kondisi kesehatan lain.
Tembakau dan Alkohol Meningkatkan Risiko Kanker Lidah
Kanker lidah dapat menyerang siapa pun, tetapi beberapa kebiasaan meningkatkan risikonya. Penggunaan rokok, cerutu, pipa, tembakau kunyah, dan produk tembakau lainnya berkaitan erat dengan kanker rongga mulut.
Konsumsi alkohol dalam jumlah tinggi juga meningkatkan risiko. Bahayanya menjadi lebih besar ketika kebiasaan merokok dan minum alkohol terjadi bersamaan. Tembakau dan alkohol dapat terus mengiritasi serta merusak sel yang melapisi rongga mulut.
Mengunyah pinang, sirih yang dicampur tembakau, atau produk sejenis juga termasuk faktor risiko yang perlu diperhatikan. Kebiasaan ini masih ditemukan di sejumlah wilayah dan terkadang dianggap aman karena menggunakan bahan tradisional.
NHS mencantumkan merokok, mengunyah tembakau, pinang, paan, serta konsumsi alkohol berlebihan sebagai keadaan yang meningkatkan kemungkinan kanker mulut.
HPV Lebih Berkaitan dengan Kanker di Pangkal Lidah
Human papillomavirus atau HPV dapat berperan pada kanker orofaring, yaitu kanker yang tumbuh di bagian belakang tenggorokan, tonsil, dan pangkal lidah. Hubungan ini berbeda dari kanker pada dua pertiga bagian depan lidah yang termasuk rongga mulut.
Infeksi HPV sangat umum dan sering hilang dengan sendirinya. Hanya sebagian kecil infeksi yang menetap dan kemudian berhubungan dengan perubahan sel dalam waktu panjang.
Kanker orofaring akibat HPV dapat muncul pada orang yang tidak memiliki riwayat merokok berat. Keluhannya dapat berupa sakit tenggorokan lama, sulit menelan, nyeri telinga, suara serak, serta pembengkakan kelenjar getah bening di leher.
CDC menjelaskan bahwa gejala kanker orofaring dapat mencakup sakit tenggorokan berkepanjangan, nyeri telinga, suara serak, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit saat menelan, dan penurunan berat badan tanpa sebab.
Sariawan Biasa dan Kanker Tidak Bisa Dibedakan dari Foto
Sariawan sering berbentuk luka bulat atau lonjong dengan bagian tengah berwarna putih kekuningan dan tepi merah. Luka dapat terasa sangat perih, terutama ketika terkena makanan asin, pedas, atau asam.
Kanker lidah dapat menyerupai luka biasa pada tahap awal. Tidak ada satu bentuk visual yang selalu menandakan kanker. Sebaliknya, tampilan yang terlihat mencurigakan belum tentu merupakan keganasan.
Durasi luka menjadi salah satu pembeda penting. Sariawan biasa cenderung membaik, sedangkan luka mencurigakan bertahan, membesar, menebal, atau mudah berdarah. Pemeriksaan tetap diperlukan karena penyebabnya tidak dapat dipastikan melalui foto atau pencarian gambar di internet.
Kementerian Kesehatan menyebut luka pada lidah yang tidak sembuh dan rasa sakit pada lidah sebagai tanda yang paling menonjol dari kanker lidah. Namun, hanya pemeriksaan medis yang dapat menentukan penyebab sebenarnya.
Dokter Memastikan Diagnosis Melalui Pemeriksaan Jaringan
Pemeriksaan dimulai dengan menanyakan waktu munculnya keluhan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, riwayat penyakit, perubahan berat badan, serta kesulitan makan. Dokter atau dokter gigi kemudian melihat dan meraba lidah, dasar mulut, gusi, rahang, tenggorokan, serta leher.
Apabila ditemukan bagian mencurigakan, pasien dapat dirujuk kepada dokter spesialis. Pemeriksaan lanjutan mungkin menggunakan kamera lentur untuk melihat pangkal lidah dan tenggorokan.
Diagnosis kanker memerlukan biopsi, yaitu pengambilan sebagian jaringan untuk diperiksa di bawah mikroskop. Pemeriksaan ini menunjukkan apakah terdapat sel kanker dan membantu menentukan jenisnya.
Pemindaian seperti CT scan, MRI, atau PET scan dapat dilakukan setelah kanker ditemukan untuk menilai ukuran serta penyebarannya. NCI menjelaskan bahwa pemeriksaan mulut dan tenggorokan digunakan untuk mendiagnosis serta menentukan stadium kanker rongga mulut.
Pemeriksaan Mulut Rutin Membantu Menemukan Kelainan Lebih Awal
Pemeriksaan mulut tidak hanya dilakukan ketika gigi terasa sakit. Dokter gigi dapat melihat permukaan lidah, bagian bawah lidah, gusi, pipi bagian dalam, langit langit, dan jaringan lain yang jarang diperhatikan sehari hari.
Kementerian Kesehatan menganjurkan pemeriksaan gigi dan mulut secara berkala setiap enam bulan. Pemeriksaan rutin juga membantu menemukan kelainan rongga mulut yang membutuhkan penilaian lebih lanjut.
Di rumah, seseorang dapat memperhatikan perubahan saat menyikat gigi. Lidah dapat dilihat di depan cermin dengan pencahayaan yang cukup. Bagian samping dan bawah lidah perlu diamati karena kelainan tidak selalu tumbuh pada permukaan atas.
Pemeriksaan mandiri tidak menggantikan dokter. Luka lebih dari tiga minggu, bercak yang menetap, benjolan, perdarahan berulang, mati rasa, kesulitan menelan, atau pembengkakan leher harus segera diperiksakan.
Kesulitan bernapas, perdarahan yang tidak berhenti, ketidakmampuan menelan ludah, atau pembengkakan yang menyumbat tenggorokan memerlukan pertolongan medis segera. Gangguan bernapas, berbicara, mengunyah, dan menelan termasuk keluhan serius pada kanker rongga mulut serta faring.






