China Siapkan Jaringan Satelit Raksasa, Starlink Mulai Dikejar

Teknologi3 Views

China Siapkan Jaringan Satelit Raksasa, Starlink Mulai Dikejar China bergerak semakin agresif di arena internet satelit, sebuah sektor yang selama beberapa tahun terakhir dikuasai oleh Starlink milik SpaceX. Persaingan ini tidak lagi sebatas siapa yang mampu meluncurkan satelit paling banyak, tetapi juga siapa yang dapat menguasai layanan internet dari orbit rendah, menjangkau wilayah terpencil, melayani kebutuhan negara, dan menawarkan pilihan baru bagi pasar global yang tidak ingin bergantung pada satu pemain besar.

China Masuk Lebih Serius ke Arena Internet Satelit

Kehadiran China dalam persaingan internet satelit bukan muncul secara tiba tiba. Negara itu melihat bahwa jaringan komunikasi berbasis satelit sudah menjadi bagian penting dari konektivitas modern, terutama untuk wilayah yang sulit dijangkau kabel optik, menara seluler, atau jaringan darat biasa. Starlink telah membuktikan bahwa layanan internet dari orbit rendah dapat dipakai untuk rumah tangga, kapal, pesawat, area bencana, hingga kebutuhan strategis negara.

China kemudian mempercepat pengembangan beberapa proyek besar, terutama Qianfan yang juga dikenal sebagai SpaceSail, serta Guowang yang diposisikan sebagai jaringan satelit nasional. Qianfan disebut menargetkan konstelasi sampai sekitar 15.000 satelit, sementara Guowang digambarkan sebagai proyek besar milik negara yang masuk dalam persaingan jaringan orbit rendah dunia. Reuters mencatat bahwa peluncuran awal Qianfan pada 2024 memang diarahkan sebagai langkah China untuk menyaingi Starlink, dengan pengiriman batch pertama berisi 18 satelit ke orbit rendah.

Starlink Masih Memimpin dengan Jarak Lebar

Starlink tetap menjadi patokan utama karena jumlah satelit, cakupan layanan, dan basis pelanggan yang sangat besar. Pada Maret 2026, SpaceX telah mencapai tonggak lebih dari 10.000 satelit Starlink yang diluncurkan, menurut data yang dikutip Scientific American dari pelacak peluncuran antariksa Jonathan McDowell.

Kekuatan Starlink tidak hanya berada pada jumlah satelit. Layanan ini juga tumbuh cepat secara komersial. Reuters melaporkan pada April 2026 bahwa basis pelanggan Starlink telah menembus angka 10 juta pada Februari 2026. Angka itu membuat Starlink bukan sekadar proyek teknologi luar angkasa, melainkan bisnis komunikasi global yang sudah memiliki pasar nyata.

Bagi China, posisi Starlink ini menjadi alasan kuat untuk mempercepat langkah. Bila satu perusahaan Amerika Serikat menguasai jaringan internet satelit global dengan jumlah pelanggan besar, banyak negara akan melihatnya sebagai infrastruktur penting yang berada di bawah pengaruh korporasi asing. Dari titik inilah China mencoba masuk dengan tawaran berbeda, yaitu jaringan yang ditopang industri dalam negeri, dukungan pemerintah, serta kerja sama dengan negara lain.

Qianfan Jadi Wajah Komersial Ambisi China

Qianfan menjadi proyek yang paling sering disebut sebagai penantang langsung Starlink. Program ini dikembangkan oleh perusahaan berbasis Shanghai dan dirancang untuk membangun jaringan internet satelit orbit rendah dengan skala besar. Xinhua melaporkan bahwa pada 7 April 2026, China meluncurkan roket Long March 8 dari Hainan dengan membawa 18 satelit internet untuk batch ketujuh Qianfan Constellation.

Peluncuran dari Hainan juga memberi sinyal bahwa China sedang membangun irama baru dalam industri antariksa komersialnya. Fasilitas peluncuran komersial menjadi bagian penting karena proyek seperti Qianfan membutuhkan pengiriman satelit secara rutin. Tanpa jadwal peluncuran yang padat, sulit bagi China mengejar Starlink yang selama ini diuntungkan oleh roket Falcon 9 milik SpaceX yang dapat dipakai berulang.

Qianfan tidak hanya dipandang sebagai proyek dalam negeri. China terlihat ingin membawa layanan ini ke luar negeri, terutama ke negara yang membutuhkan koneksi internet untuk wilayah pedalaman, sekolah, fasilitas kesehatan, dan sektor publik. Reuters melaporkan bahwa SpaceSail direncanakan mulai menyediakan akses internet di wilayah terpencil Brasil pada paruh pertama 2026.

Guowang Menjadi Tulang Punggung Infrastruktur Nasional

Selain Qianfan, China juga menyiapkan Guowang sebagai jaringan satelit yang lebih dekat dengan kepentingan nasional. Bila Qianfan sering dilihat sebagai wajah komersial dan ekspansi global, Guowang dinilai memiliki peran lebih luas dalam kedaulatan komunikasi, layanan publik, dan kebutuhan strategis negara.

Guowang penting karena China tidak ingin hanya menjadi pengguna teknologi internet satelit. Beijing ingin punya sistem sendiri, dari produksi satelit, peluncuran, pengendalian orbit, stasiun bumi, sampai layanan akhir kepada pengguna. Pola ini sesuai dengan kebijakan industri China yang sering mengutamakan rantai pasok domestik untuk sektor penting.

Dalam persaingan dengan Starlink, Guowang dapat menjadi benteng komunikasi nasional. Jika suatu saat layanan asing dibatasi, dikenai sanksi, atau dinilai tidak cocok dengan kebijakan negara, China tetap memiliki jaringan sendiri. Inilah alasan mengapa internet satelit bagi China tidak hanya urusan bisnis, tetapi juga urusan kendali teknologi.

Mengapa Orbit Rendah Jadi Rebutan

Internet satelit orbit rendah menjadi incaran karena memiliki waktu tunda lebih kecil dibanding satelit geostasioner yang berada jauh lebih tinggi. Bagi pengguna biasa, perbedaan ini terasa pada panggilan video, permainan daring, transaksi digital, sampai layanan kerja jarak jauh. Makin rendah jarak satelit dari Bumi, makin cepat pula sinyal bergerak dari perangkat pengguna ke satelit dan kembali ke jaringan darat.

Starlink memanfaatkan keunggulan ini sejak awal. China kini mencoba mengikuti arah yang sama dengan membangun konstelasi besar. Namun, membangun internet satelit orbit rendah tidak cukup hanya meluncurkan satelit. Operator harus punya satelit yang andal, roket yang tersedia, terminal pengguna yang terjangkau, stasiun bumi, lisensi spektrum, dan perjanjian operasi di banyak negara.

Di sinilah persaingan menjadi berat. Starlink telah memiliki pengalaman operasional luas, sementara China masih mengejar dari belakang. Meski begitu, China punya keunggulan lain, yaitu kemampuan manufaktur besar, dukungan kebijakan, dan peluang kerja sama negara ke negara yang dapat mempercepat masuknya layanan ke pasar tertentu.

Persaingan Masuk ke Negara Berkembang

Pasar terbesar internet satelit bukan hanya kota besar yang sudah penuh jaringan fiber dan seluler. Target utamanya adalah daerah terpencil, pulau kecil, wilayah pegunungan, kawasan perbatasan, kapal laut, pertambangan, perkebunan, serta fasilitas publik yang belum tersambung jaringan cepat.

China memahami celah itu. Masuknya SpaceSail ke Brasil menunjukkan bahwa negara berkembang menjadi sasaran penting. China dapat menawarkan kerja sama yang dikaitkan dengan pendidikan, kesehatan, pemerintahan digital, dan pembangunan wilayah. Bagi negara penerima, pilihan selain Starlink dapat memberi ruang tawar lebih besar, terutama dalam harga, aturan data, dan kerja sama lokal.

Starlink memang sudah unggul dalam kecepatan ekspansi, tetapi tidak semua negara nyaman bergantung pada satu perusahaan milik tokoh bisnis Amerika Serikat. Sebagian pemerintah ingin alternatif agar akses internet penting tidak terlalu tersentral pada satu penyedia. China mencoba membaca kebutuhan itu dengan membawa layanan satelit sebagai bagian dari paket kerja sama teknologi.

Isu Strategis Membuat Persaingan Makin Panas

Starlink mendapat perhatian besar setelah digunakan dalam perang Ukraina untuk komunikasi lapangan. Sejak saat itu, banyak negara melihat internet satelit bukan hanya sarana sipil, tetapi juga alat strategis. AP melaporkan bahwa sejumlah peneliti militer dan pemerintah China mengkaji cara menghadapi pengaruh Starlink yang dinilai punya kaitan kuat dengan kemampuan pertahanan Amerika Serikat.

Bagi Beijing, keberadaan ribuan satelit Starlink di orbit rendah menimbulkan pertanyaan besar tentang kendali ruang angkasa, keamanan data, dan kemampuan komunikasi saat terjadi krisis. Karena itu, membangun jaringan tandingan menjadi langkah defensif sekaligus ofensif dalam perebutan pengaruh teknologi.

Namun, China juga harus menjaga citra. Jika ingin layanan satelitnya diterima banyak negara, proyek seperti Qianfan harus tampil sebagai layanan komersial yang aman, stabil, dan terbuka untuk kerja sama. Tantangannya adalah bagaimana meyakinkan pasar bahwa layanan tersebut bukan hanya alat geopolitik, melainkan produk komunikasi yang dapat diandalkan.

Tantangan Besar yang Harus Dihadapi China

Mengejar Starlink tidak mudah. SpaceX memiliki roket yang dapat digunakan berulang, jadwal peluncuran padat, pengalaman produksi satelit dalam jumlah besar, dan ekosistem pelanggan yang sudah berjalan. China masih perlu membuktikan bahwa proyek Qianfan dan Guowang mampu diluncurkan dalam skala ribuan satelit dengan kecepatan tinggi.

Tantangan lain terletak pada terminal pengguna. Internet satelit tidak akan luas dipakai jika perangkat penerimanya mahal, sulit dipasang, atau tidak stabil. Starlink sudah berhasil membuat perangkat yang dikenal luas di pasar. China harus membuat terminal yang kompetitif, mudah digunakan, dan cocok untuk berbagai kondisi lapangan.

Masalah orbit juga tidak bisa diabaikan. Makin banyak satelit dikirim ke orbit rendah, makin besar kebutuhan koordinasi agar tidak terjadi tabrakan, gangguan sinyal, atau persoalan sampah antariksa. The Verge mencatat bahwa pertumbuhan mega konstelasi seperti Starlink dan proyek lain menambah kekhawatiran atas kepadatan orbit rendah dan kebutuhan aturan koordinasi yang lebih kuat.

Indonesia Perlu Membaca Perubahan Ini dengan Cermat

Bagi Indonesia, persaingan China dan Starlink punya arti penting. Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan koneksi internet yang menjangkau daerah terpencil, perairan, pulau kecil, sekolah pelosok, dan pos layanan publik. Internet satelit dapat menjadi pelengkap jaringan fiber dan seluler, terutama di daerah yang biaya pembangunan jaringan daratnya terlalu tinggi.

Namun, Indonesia juga perlu berhati hati. Pemilihan penyedia internet satelit tidak hanya soal harga dan kecepatan. Ada urusan kedaulatan data, keamanan jaringan, lokasi gateway, kerja sama dengan operator lokal, pajak, perlindungan konsumen, dan kesiapan regulasi. Bila pemain baru dari China masuk lebih luas, pemerintah perlu memastikan semua layanan mengikuti aturan nasional.

Persaingan China dan Starlink dapat memberi keuntungan bagi Indonesia jika dikelola dengan bijak. Makin banyak pemain, makin besar peluang harga turun dan layanan membaik. Tetapi negara tetap harus memastikan bahwa infrastruktur komunikasi tidak membuat ketergantungan baru yang sulit dikendalikan.

Starlink Dikejar, Tetapi Belum Tergusur

China memang sedang menyiapkan langkah besar, tetapi Starlink belum berada dalam posisi mudah digeser. Keunggulan SpaceX masih terlihat pada jumlah satelit, pelanggan, pengalaman peluncuran, serta jaringan layanan internasional. China baru memasuki fase percepatan, sementara Starlink sudah berada pada fase pematangan pasar.

Meski begitu, kehadiran Qianfan dan Guowang membuat peta internet satelit tidak lagi berjalan satu arah. Starlink kini menghadapi pesaing yang bukan hanya membawa modal, tetapi juga dukungan negara, ambisi industri, dan jaringan diplomasi ekonomi. Dalam beberapa tahun ke depan, persaingan ini dapat membuat layanan internet satelit menjadi lebih ramai. Lebih politis, dan lebih menentukan dalam perebutan konektivitas global.

Perlombaan Satelit Mengubah Arah Industri Telekomunikasi

Industri telekomunikasi dunia kini tidak hanya bertumpu pada kabel laut, menara seluler, dan fiber optik. Satelit orbit rendah mulai menjadi lapisan baru yang menghubungkan wilayah sulit. Mendukung layanan darurat, dan membuka pasar baru bagi operator digital. China masuk ke arena ini dengan ambisi besar karena tidak ingin tertinggal dalam infrastruktur komunikasi generasi baru.

Bagi Starlink, tantangan dari China menjadi tanda bahwa dominasinya mulai diperebutkan. Bagi China, proyek satelit raksasa adalah cara untuk menunjukkan kemampuan teknologi sekaligus memperluas pengaruh layanan digitalnya.