Payet dan Gaun Arsip Jadi Sorotan Mode Cannes 2026 Festival Film Cannes 2026 kembali menjadi panggung besar bagi sinema dan mode dunia. Di sepanjang karpet merah Palais des Festivals, para bintang hadir bukan hanya membawa film, tetapi juga pilihan busana yang langsung mencuri perhatian publik. Kilau payet, gaun arsip dari rumah mode besar, perhiasan mewah, siluet ramping, sampai potongan couture yang lebih tertib menjadi tanda kuat bahwa gaya Cannes tahun ini bergerak ke arah glamor yang lebih terukur. Festival edisi ke 79 ini berlangsung di Cannes, Prancis, pada 12 sampai 23 Mei 2026, menjadikannya salah satu agenda budaya paling disorot pada pertengahan tahun.
Cannes 2026 Jadi Etalase Mode Dunia
Cannes selalu memiliki posisi istimewa dalam kalender mode internasional. Berbeda dari ajang penghargaan film biasa, festival ini menghadirkan perpaduan antara pemutaran perdana, selebritas lintas negara, perancang besar, dan fotografer mode dari berbagai media dunia.
Tahun ini, panggung Cannes terasa lebih rapi tetapi tetap gemerlap. Para tamu undangan terlihat memilih busana yang menonjolkan detail kuat, bukan sekadar volume besar. Gaun dengan taburan payet, satin mengilap, lace, bordir, serta perhiasan berlian menjadi pemandangan yang paling sering muncul pada hari hari awal festival.
Sorotan juga tertuju pada aturan busana Cannes yang semakin jelas. Untuk pemutaran gala di Grand Théâtre Lumière, pengunjung diminta mengenakan busana malam seperti gaun panjang, tuksedo, gaun hitam pendek, gaun koktail, setelan celana gelap, serta sepatu elegan. Festival juga melarang nuditas, busana terlalu bervolume, dan gaun berekor besar yang mengganggu arus tamu serta tempat duduk di teater.
Payet Kembali Menjadi Senjata Utama Karpet Merah
Kilau payet menjadi salah satu bahasa visual paling kuat di Cannes 2026. Di bawah cahaya kamera dan lampu festival, detail berkilau memberi efek mewah tanpa perlu potongan yang terlalu rumit.
Demi Moore menjadi salah satu nama yang banyak dibicarakan. Ia tampil dalam gaun Jacquemus berkilau dengan siluet kolom dan aksen peplum, dipadukan dengan perhiasan Chopard. Tampilan itu langsung menegaskan bahwa payet masih menjadi pilihan aman untuk tampil megah di Cannes, terutama ketika dipakai dalam potongan yang bersih dan tidak berlebihan.
Jane Fonda juga memperkuat tren ini lewat gaun Gucci lengan panjang berpayet hitam. Potongan high neck membuat busana tersebut terlihat anggun, sementara seluruh permukaan payet memberi kesan tegas di karpet merah. Kombinasi gaun hitam, detail berkilau, dan perhiasan besar membuat penampilannya terasa klasik tetapi tetap kuat secara visual.
Gaun Arsip dan Busana Lawas Makin Diburu
Selain payet, tren lain yang menonjol adalah penggunaan gaun arsip. Para selebritas tidak hanya mengejar rancangan terbaru, tetapi juga kembali membuka lemari sejarah mode dari rumah desain ternama.
Leïla Bekhti menjadi contoh paling menarik. Ia tampil dengan gaun hitam Guy Laroche koleksi Fall Winter 2002 yang dihiasi detail ringan pada permukaannya. Gaun itu memiliki bahu terbuka lembut dan siluet gelap yang elegan, lalu dipadukan dengan perhiasan Chaumet, termasuk gelang berlian arsip dari 1939 dan anting Voltige.
Pilihan Bekhti memperlihatkan bahwa gaun lawas tidak lagi dianggap sebagai alternatif, melainkan pernyataan gaya. Busana arsip memberi nilai cerita, kedalaman visual, dan kesan personal yang sulit dicapai oleh rancangan baru yang baru muncul dari runway.
Poppy Delevingne juga tampil dengan busana vintage John Galliano koleksi Fall 2007 pada pemutaran La Vénus Electrique. Gaun berbahan velvet dan lace itu dipadukan dengan perhiasan Chopard, menghadirkan nuansa glamor lama yang kembali terasa segar di karpet merah tahun ini.
Siluet Ramping Mengalahkan Gaun Super Besar
Aturan Cannes yang membatasi busana terlalu bervolume tampak ikut memengaruhi pilihan banyak tamu. Gaun dengan ekor panjang dan ukuran ekstrem tidak lagi menjadi pusat permainan. Sebagai gantinya, banyak selebritas memilih siluet ramping, tubuh tinggi, dan potongan yang mudah bergerak.
Siluet kolom menjadi salah satu pilihan paling sering terlihat. Model ini membuat tubuh tampak jenjang dan memberi ruang bagi material seperti satin, payet, atau lace untuk bekerja lebih maksimal. Tanpa perlu volume besar, gaun tetap dapat tampil mencolok melalui kilau, potongan bahu, detail pinggang, atau perhiasan.
Chloé Zhao, misalnya, tampil dengan gaun lace rancangan Gabriela Hearst yang memiliki kerah tinggi dan detail seperti jaring. Busana itu tidak mengandalkan ukuran besar, tetapi justru kuat karena konstruksi halus dan tekstur yang kompleks.
Warna Hitam Tetap Paling Aman dan Paling Kuat
Di tengah banyaknya warna lembut dan kilau metalik, hitam tetap menjadi pilihan utama di Cannes 2026. Warna ini muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari payet penuh, lace, velvet, setelan formal, hingga gaun arsip.
Hitam memberi keuntungan besar di karpet merah. Warna ini mudah dipadukan dengan berlian, aman untuk berbagai usia, dan tetap terlihat formal dalam foto. Ketika diberi tekstur seperti payet atau renda, hitam tidak lagi tampak polos, tetapi berubah menjadi mewah.
Leïla Bekhti, Jane Fonda, Hannah Einbinder, dan sejumlah tamu lain menunjukkan bahwa hitam tidak berarti membosankan. Setiap tampilan memiliki karakter berbeda. Ada yang hadir lewat gaun arsip, ada yang memakai payet, ada pula yang memilih potongan minimalis dengan struktur tajam.
Warna Lembut Mengisi Sisi Romantis Cannes
Meski hitam dan payet mendominasi, warna lembut tetap menjadi bagian penting dari gaya Cannes. Nuansa putih, krem, salmon pink, ungu muda, dan kuning pucat hadir sebagai penyeimbang dari busana gelap.
Alia Bhatt menjadi salah satu nama yang membawa warna lembut ke karpet merah. Ia disebut hadir dalam gaun custom Tamara Ralph berwarna salmon pink dengan potongan korset pada hari pertama Cannes. Warna tersebut memberi kesan feminin, tetapi tetap formal berkat konstruksi couture yang rapi.
Philippine Leroy Beaulieu juga masuk daftar tampilan yang diperhatikan melalui gaun Saint Laurent berwarna ungu airy rancangan Anthony Vaccarello. Pilihan warna ini terasa ringan untuk suasana Riviera, tetapi tetap punya daya tarik karpet merah.
Perhiasan Besar Menjadi Penanda Status Gaya
Cannes tidak bisa dipisahkan dari perhiasan mewah. Tahun ini, kalung berlian, gelang arsip, anting panjang, dan batu permata besar tampil sebagai bagian penting dari keseluruhan busana.
Chopard kembali terlihat kuat di banyak tampilan karpet merah. Ruth Negga memadukan gaun Dior Haute Couture berwarna hijau satin dengan kalung berlian Chopard. Gaun itu memiliki detail lace hitam serta rumbai benang, pita, dan manik, membuat perhiasan berlian tampil sebagai penutup yang sangat serasi.
Demi Moore juga melengkapi tampilan Jacquemus berkilau dengan perhiasan Chopard. Dalam gaya Cannes, perhiasan bukan sekadar pemanis. Ia menjadi bagian dari struktur tampilan, terutama ketika gaun sengaja dibuat lebih ramping agar berlian dan batu permata punya ruang tampil.
Couture Lebih Tertib, Tetapi Tetap Menggoda Kamera
Couture di Cannes 2026 terasa lebih disiplin. Rancangannya tidak kehilangan kekuatan visual, tetapi tidak lagi bertumpu pada ukuran besar. Para perancang bermain pada material, teknik jahit, bordir, dan garis potong.
Ruth Negga dalam Dior Haute Couture menunjukkan pendekatan tersebut. Satin hijau, lace hitam, rumbai manik, dan kalung berlian menghasilkan tampilan yang kaya detail tanpa tampak berat. Gaya seperti ini sangat cocok dengan aturan Cannes yang meminta busana tetap menjaga kelancaran acara.
Joan Collins juga tampil dengan gaun putih Stephane Rolland Haute Couture yang memiliki detail bunga terstruktur di bagian bodice. Ia memadukannya dengan sarung tangan opera hitam, kalung mencolok, dan anting chandelier berlian. Tampilan ini menunjukkan bahwa couture tetap bisa megah tanpa harus memakai ekor raksasa.
Gaya Siang dan Gaya Malam Dibuat Berbeda
Cannes bukan hanya karpet merah malam hari. Ada sesi foto, konferensi pers, jamuan, dan kegiatan di sekitar Croisette. Karena itu, para selebritas biasanya membangun lebih dari satu gaya dalam sehari.
Demi Moore memberi contoh jelas. Pada sesi foto juri, ia tampil dengan gaun polka dot Jacquemus dari koleksi Fall Winter 2026. Busana ini terasa lebih ringan, ceria, dan cocok untuk suasana siang. Pada malam pembukaan, ia beralih ke gaun berkilau yang jauh lebih formal.
Pola ini membuat Cannes terasa seperti pekan mode yang bergerak sepanjang hari. Pagi dan siang diisi busana lebih santai tetapi tetap mewah, sedangkan malam menjadi arena gaun besar dalam versi yang sudah disesuaikan dengan aturan festival.
Busana Pria Tetap Kuat Lewat Tuksedo dan Setelan Bersih
Meski sorotan sering jatuh pada gaun perempuan, gaya pria di Cannes 2026 tetap memegang peran penting. Tuksedo hitam, setelan putih, dan tailoring rapi masih menjadi pilihan utama.
William Abadie tampil dengan setelan putih yang dipadukan dengan jam Chopard. Gaya seperti ini menunjukkan bahwa busana pria di Cannes tidak harus berlebihan untuk terlihat tajam. Kuncinya ada pada potongan, ukuran yang pas, dan aksesori yang tidak ramai.
Setelan hitam klasik juga tetap menjadi fondasi. Di acara seformal Cannes, pria yang memilih tuksedo rapi dengan dasi kupu kupu atau dasi gelap tetap berada di jalur paling aman. Namun, detail seperti bahan satin, sepatu mengilap, jam mewah, atau bros kecil dapat membuat tampilan lebih kuat.
Cannes 2026 Menunjukkan Glamor yang Lebih Terkurasi
Gaya tahun ini memperlihatkan bahwa kemewahan tidak harus selalu keras dan besar. Banyak selebritas memilih tampil dengan detail yang dipikirkan matang, mulai dari gaun arsip, perhiasan lawas, payet halus, hingga warna yang disesuaikan dengan pencahayaan karpet merah.
Cannes 2026 juga membuktikan bahwa aturan busana tidak mengurangi daya tarik mode. Justru, batasan tersebut membuat banyak stylist dan rumah mode mencari cara yang lebih cerdas untuk tampil menonjol. Hasilnya, karpet merah terasa lebih bersih, lebih tertata, tetapi tetap memberi banyak momen visual yang kuat.
Kilau payet, gaun antik, lace, satin, dan berlian menjadi rangkaian utama yang membentuk wajah mode Cannes tahun ini. Di setiap tangga Palais des Festivals, busana tidak hanya menjadi pakaian, melainkan bagian dari pertunjukan budaya populer yang terus diamati dunia.





