Matcha Jadi Gaya Hidup Gen Z, Dari Minuman Hijau ke Simbol Nongkrong Anak Muda

Gaya Hidup7 Views

Matcha jadi gaya hidup Gen Z bukan lagi sekadar ungkapan yang muncul dari ramainya unggahan minuman berwarna hijau di media sosial. Di Indonesia, matcha kini semakin mudah ditemukan di kedai kopi, restoran Jepang, gerai minuman, pusat perbelanjaan hingga dapur anak muda yang mulai membeli bubuk matcha dan chasen untuk membuat minuman sendiri di rumah. Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana teh tradisional Jepang berhasil mendapatkan tempat baru di kalangan generasi yang sangat dekat dengan budaya digital, tren kebugaran dan pengalaman kuliner.

Data terbaru ikut memperlihatkan besarnya ketertarikan tersebut. Survei Jakpat terhadap 1.238 responden pada 22 sampai 24 April 2026 mencatat matcha dikonsumsi oleh 34 persen Gen Z dalam enam bulan terakhir. Persentasenya sedikit lebih tinggi dibandingkan Milenial yang berada pada 32 persen. Kopi, teh dan susu memang masih lebih dominan, tetapi minuman ini sudah berada di antara minuman modern yang cukup banyak dipilih kelompok muda Indonesia.

Kenaikannya juga terlihat melalui pencarian internet. Databoks mencatat indeks pencarian kata “matcha” di Google Indonesia melonjak sepanjang 2025 dan mencapai skor tertinggi 100 pada September 2025. Pada periode 2014 sampai 2024, titik tertingginya hanya berada di angka 41.

Dari Minuman Jepang Berubah Menjadi Bagian dari Keseharian Gen Z

minuman ini sebenarnya bukan produk baru. Bubuk teh hijau tersebut telah lama menjadi bagian dari tradisi minum teh Jepang. Perubahan terbesar terjadi ketika penyajiannya tidak lagi terbatas pada secangkir teh panas.

Generasi muda mengenal minuman ini dalam bentuk yang jauh lebih beragam. minuman ini latte dingin, strawberry matcha, matcha dengan susu oat, matcha cheesecake, tiramisu matcha, es krim hingga berbagai makanan penutup membuat rasa teh tersebut lebih mudah diterima oleh konsumen baru.

Reuters melaporkan permintaan matcha dunia meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama dari konsumen Milenial dan Gen Z yang mencari pilihan minuman yang dianggap lebih sehat. Kedai di berbagai negara kemudian memperluas menu dengan matcha latte, smoothie dan makanan penutup berbasis matcha. Perhatian di media sosial ikut mempercepat permintaan tersebut.

Situasi yang sama semakin terlihat di kota kota Indonesia. minuman ini kini tidak selalu ditempatkan sebagai menu tambahan di kedai kopi. Sejumlah tempat justru membangun pengalaman minum yang berpusat pada teh Jepang tersebut.

Menurut penulis, kekuatan matcha di kalangan Gen Z terletak pada kemampuannya hadir dalam beberapa dunia sekaligus. Ia bisa menjadi minuman harian, bagian dari aktivitas nongkrong, produk kebugaran, objek fotografi dan pengalaman kuliner dalam satu gelas.

Warna Hijau Matcha Sangat Cocok dengan Budaya Media Sosial

Popularitas makanan dan minuman di kalangan Gen Z tidak hanya ditentukan oleh rasa. Cara sebuah produk terlihat di kamera juga mempunyai posisi penting.

minuman ini mempunyai keuntungan besar pada bagian tersebut. Warna hijau cerahnya langsung mudah dikenali ketika dipadukan dengan susu putih, es batu transparan atau lapisan stroberi berwarna merah. Proses menuangkan minuman ini ke atas susu juga menghasilkan gradasi yang menarik untuk direkam dalam video pendek.

Reuters mencatat perhatian viral di media sosial ikut mendorong permintaan matcha dunia. Seorang pemasok yang diwawancarai Reuters bahkan menyebut permintaan konsumennya meningkat sepuluh kali lipat dalam satu tahun ketika ketertarikan terhadap minuman ini meningkat tajam.

Media sosial kemudian melahirkan pola konsumsi baru. Konsumen tidak hanya memesan minuman, tetapi juga memperlihatkan proses pembuatannya, jenis bubuk yang digunakan, warna hasil seduhan, alat pengaduk, gelas hingga pilihan susu.

Satu gelas minuman ini akhirnya mempunyai nilai visual yang kuat. Foto atau video dapat menunjukkan preferensi seseorang terhadap jenis kedai, gaya minuman maupun aktivitas yang sedang dilakukan.

Ritual Membuat Matcha Sendiri Mulai Menarik Perhatian

Ketertarikan Gen Z tidak berhenti di meja kedai. Sebagian orang mulai mempelajari proses membuat minuman ini sendiri menggunakan peralatan yang terinspirasi dari penyajian tradisional Jepang.

Peralatan seperti chasen berupa pengaduk bambu, chawan sebagai mangkuk, chashaku untuk mengambil bubuk serta wadah penyimpanan minuman ini semakin sering muncul dalam video pembuatan minuman di rumah.

ANTARA ketika mengikuti pengalaman meracik minuman ini di Jakarta pada Juli 2025 mencatat proses tradisional menggunakan sejumlah alat khusus, antara lain chasen, chakin, chashaku, chawan, fukusa, natsume, hishaku dan chagama. Dalam sesi tersebut, peserta menggunakan sekitar tiga gram bubuk minuman ini sebelum mencampurkannya dengan air dan mengaduknya menggunakan chasen.

Bagi generasi yang terbiasa dengan video pendek, proses tersebut mempunyai daya tarik tersendiri. Mengayak bubuk, menuangkan air, mengaduk minuman ini sampai berbusa kemudian mencampurkannya dengan susu menciptakan pengalaman yang lebih panjang daripada sekadar membuka botol minuman.

Aktivitas tersebut kemudian masuk ke dalam rutinitas pagi, kegiatan setelah olahraga ataupun waktu bersantai. minuman ini tidak hanya dinikmati setelah selesai dibuat, tetapi proses pembuatannya ikut menjadi bagian dari pengalaman.

Budaya Nongkrong Mulai Memberi Ruang Lebih Besar

Selama bertahun tahun, kedai kopi identik dengan espresso, cappuccino dan latte. Kehadiran minuman ini membuat pilihan konsumen muda semakin luas.

Sejumlah Gen Z tetap mengonsumsi kopi, tetapi kini mempunyai alternatif ketika ingin menikmati minuman berkafein dengan rasa berbeda. Data Jakpat 2026 menunjukkan kopi masih dikonsumsi 67 persen Gen Z, sedangkan teh berada pada 65 persen dan matcha 34 persen. Angka tersebut memperlihatkan minuman ini belum menggantikan kopi, tetapi sudah membangun kelompok konsumennya sendiri.

minuman ini juga lebih mudah dikembangkan menjadi berbagai menu musiman. Kedai dapat menggabungkannya dengan stroberi, mangga, kelapa, vanila, cokelat putih maupun berbagai sirup.

Variasi inilah yang membuat konsumen dapat kembali membeli produk dengan rasa berbeda tanpa meninggalkan bahan utamanya. Bagi usaha kuliner, warna hijau matcha juga memudahkan sebuah menu terlihat berbeda dari kopi susu yang sudah sangat umum.

Fenomena global bahkan berkembang lebih jauh. Pada 2025, sejumlah acara di Singapura mulai menggabungkan pesta siang hari tanpa alkohol dengan matcha. Business Insider melaporkan sebuah Matcha Rave di Singapura dihadiri ratusan peserta, sebagian besar Gen Z dan Milenial, yang menikmati musik sambil mendapatkan minuman matcha dingin.

Ikut Masuk ke Tren Wellness Gen Z

Alasan kesehatan juga mempunyai peranan besar dalam popularitas matcha. Banyak konsumen mengenalnya sebagai minuman yang mengandung antioksidan dan kafein, kemudian menghubungkannya dengan aktivitas seperti olahraga, pekerjaan dan belajar.

Harvard Health mencatat matcha mengandung berbagai antioksidan, termasuk polifenol seperti katekin, serta senyawa seperti klorofil dan quercetin. Matcha juga mempunyai L theanine, asam amino yang telah dikaitkan dengan konsentrasi dan kewaspadaan. Namun Harvard menegaskan masih diperlukan lebih banyak penelitian pada manusia untuk memastikan berbagai klaim kesehatan yang sering dikaitkan dengan matcha.

Persepsi sebagai pilihan yang lebih sehat membuat matcha mudah masuk ke lingkungan konsumen yang tertarik pada kebugaran. Minuman tersebut sering dipadukan dengan susu nabati, dikurangi gulanya atau dibuat tanpa sirup.

Namun label hijau dan penggunaan minuman ini tidak otomatis membuat setiap minuman rendah gula. Kandungan sebuah matcha latte sangat bergantung pada bahan tambahan yang digunakan kedai, termasuk gula, krimer dan sirup.

American Heart Association pada 2026 masih merekomendasikan pembatasan gula tambahan sekitar 25 gram sehari bagi kebanyakan perempuan dan 36 gram bagi kebanyakan laki laki. Karena itu, konsumen tetap perlu memperhatikan komposisi apabila matcha latte manis dikonsumsi setiap hari.

Tetap Mengandung Kafein

Sebagian orang berpindah dari kopi ke matcha karena menganggap teh hijau tersebut tidak mengandung banyak kafein. Anggapan itu tidak sepenuhnya tepat.

Harvard Health mencatat satu cangkir matcha berukuran delapan ons dapat mengandung sekitar 38 sampai 89 miligram kafein. Jumlah tersebut biasanya lebih tinggi dibandingkan teh hijau biasa, tetapi masih dapat berada di bawah satu cangkir kopi.

Besarnya kandungan kafein dapat berubah berdasarkan jumlah bubuk dan cara pembuatan. Matcha dengan takaran lebih banyak tentu dapat memberikan kafein lebih tinggi.

FDA menyebut bagi sebagian besar orang dewasa sehat, konsumsi sekitar 400 miligram kafein per hari umumnya tidak dikaitkan dengan efek negatif. Namun sensitivitas setiap orang berbeda. Ada individu yang dapat mengalami sulit tidur, jantung berdebar atau rasa tidak nyaman dengan jumlah yang jauh lebih rendah.

Karena itu, kebiasaan minum matcha pada sore atau malam hari tetap perlu memperhitungkan total kafein dari sumber lain seperti kopi, teh, cokelat dan minuman energi.

Gen Z Indonesia Semakin Mengenal Berbagai Kualitas

Naiknya konsumsi juga membuat sebagian pembeli mulai lebih teliti melihat bubuk yang digunakan. Kata seperti ceremonial grade, premium, culinary, Uji dan single cultivar semakin sering muncul dalam penawaran kedai maupun produk eceran.

Survei YouGov yang dikutip Databoks pada 2025 menunjukkan 54 persen responden Indonesia bersedia membeli ceremonial matcha dengan harga lebih dari Rp40 ribu per gelas. Data tersebut memberi gambaran bahwa ada kelompok konsumen Indonesia yang bersedia membayar lebih untuk pengalaman matcha dengan kualitas tertentu.

ANTARA juga mencatat hadirnya pengalaman meracik matcha menggunakan kultivar Uji Hikari di sebuah tempat di Jakarta. Pelanggan tidak hanya datang untuk meminum hasil akhirnya, tetapi diperkenalkan dengan peralatan, tata cara penyajian hingga karakter bubuk teh.

Perubahan ini membuat pengetahuan tentang matcha menjadi semakin rinci. Sebagian konsumen mulai memperhatikan warna bubuk, aroma, rasa pahit, umami, tekstur dan daerah asal.

Menurut penulis, ketika konsumen mulai bertanya tentang kultivar, daerah produksi dan cara penggilingan, matcha telah bergerak lebih jauh dari sekadar tren warna hijau. Ada kelompok pembeli yang ingin mengetahui apa sebenarnya yang mereka minum.

Harga Matcha Jepang Ikut Melonjak Saat Permintaan Dunia Naik

Popularitas besar ternyata menciptakan persoalan lain di negara produsen. Jepang mengalami tekanan pasokan ketika permintaan internasional tumbuh lebih cepat daripada kemampuan produksi.

Reuters melaporkan Jepang menghasilkan 5.336 ton tencha pada 2024. Tencha merupakan daun teh yang kemudian digiling menjadi matcha. Jumlah produksi tersebut sudah hampir 2,7 kali lebih tinggi dibandingkan sepuluh tahun sebelumnya.

Namun cuaca panas ekstrem di Jepang memengaruhi panen berikutnya. Salah satu petani generasi keenam di Kyoto yang diwawancarai Reuters hanya memperoleh sekitar 1,5 ton tencha pada 2025, turun sekitar seperempat dari produksi normalnya sebesar dua ton.

Harga lelang ikut melonjak. Pada Mei 2025, harga tencha di Kyoto mencapai 8.235 yen per kilogram, naik sekitar 170 persen dibandingkan setahun sebelumnya dan menjadi rekor pada saat laporan Reuters diterbitkan.

Ekspor teh hijau Jepang, termasuk matcha, juga memperlihatkan kenaikan. Nilainya meningkat 25 persen pada 2024 menjadi 36,4 miliar yen, sementara volume ekspornya naik 16 persen. Permintaan terhadap teh bubuk menjadi salah satu pendorong pertumbuhan tersebut.

Kelangkaan Membuat Matcha Berkualitas Semakin Bernilai

Meningkatkan produksi matcha tidak dapat dilakukan dalam hitungan bulan. Tanaman baru membutuhkan waktu bertahun tahun sebelum siap dipanen.

Reuters mencatat penanaman kebun baru membutuhkan sekitar lima tahun sebelum daun dapat dipanen. Artinya, ketika permintaan tiba tiba melonjak karena tren global, produsen tidak dapat langsung meningkatkan pasokan dengan kecepatan yang sama.

Global Japanese Tea Association juga menjelaskan bahwa matcha berkualitas tinggi mempunyai keterbatasan alami. Tidak seluruh teh Jepang pada musim semi digunakan untuk membuat matcha, sementara penggilingan daun menjadi bubuk membutuhkan proses tersendiri.

Situasi tersebut mulai mengubah cara beberapa penjual menangani stok. Sejumlah pemasok membatasi pembelian ketika persediaan tertentu menipis, terutama setelah permintaan viral meningkat tajam.

Bagi konsumen Gen Z, kenaikan harga dapat menjadi titik yang menentukan apakah kebiasaan minum matcha akan tetap bertahan sebagai konsumsi harian atau berubah menjadi pembelian sesekali untuk kualitas yang lebih tinggi.

Bisnis Kuliner Indonesia Mulai Melihat Matcha sebagai Pasar Tersendiri

Lonjakan pencarian di Indonesia membuka peluang besar bagi industri makanan dan minuman. Pada September 2025, indeks Google Trends untuk kata matcha di Indonesia mencapai skor maksimal 100. Kemudian pada April 2026, survei Jakpat menunjukkan sepertiga lebih responden Gen Z telah mengonsumsi matcha dalam enam bulan terakhir.

Angka tersebut membuat matcha tidak lagi hanya relevan bagi restoran Jepang. Kedai kopi, bakery, restoran, merek susu dan bisnis minuman dapat menggunakannya sebagai rasa utama.

ANTARA pada 2026 juga mencatat produk minuman yang menargetkan generasi muda mulai memasukkan matcha sebagai salah satu varian bersama cokelat dan rasa populer lainnya.

Persaingan kemudian tidak hanya berada pada harga. Warna matcha, rasa, kualitas bubuk, jenis susu, cara penyajian serta tampilan gelas menjadi bagian yang dapat membedakan satu gerai dengan gerai lain.

Konsumen yang semakin mengenal matcha juga lebih mudah mengetahui perbedaan minuman dengan rasa teh yang kuat dan minuman yang sebagian besar rasa manisnya berasal dari sirup.

Bisa Bertahan karena Tidak Hanya Bergantung pada Satu Cara Penyajian

Salah satu kekuatan matcha adalah fleksibilitas. Harvard Health mencatat bubuk tersebut dapat digunakan untuk teh panas, latte, smoothie, oatmeal, yogurt hingga makanan panggang.

Kemampuan tersebut membuat satu bahan dapat masuk ke berbagai waktu konsumsi. Matcha dapat diminum pagi hari, dipesan ketika nongkrong, digunakan sebagai bahan makanan penutup atau dibuat sendiri di rumah.

Gen Z juga tidak harus mengikuti cara penyajian yang sama. Ada konsumen yang memilih matcha dengan air tanpa susu, sebagian menyukai latte, sementara lainnya lebih tertarik pada strawberry matcha atau makanan penutup.

Perubahan selera itu membuat bisnis kuliner mempunyai ruang luas untuk menciptakan produk baru. Namun pertumbuhan permintaan global juga membuat asal bubuk dan kualitas bahan semakin penting, terutama ketika matcha Jepang berkualitas tinggi menghadapi keterbatasan produksi dan kenaikan harga.

Di Indonesia, angka konsumsi 34 persen di kalangan Gen Z menunjukkan matcha sudah mempunyai basis konsumen yang nyata, meski belum menyaingi kopi dan teh secara keseluruhan. Aktivitas meracik sendiri, pilihan ceremonial matcha, budaya nongkrong hingga tampilan yang mudah dikenali di media sosial membuat minuman hijau tersebut terus menemukan ruang baru dalam keseharian anak muda.